Hari ini saya ingin membahas tentang storm. Beberapa hari lalu, saya berhasil mengunduh komik Storm yang cukup populer dulu di Majalah Hai ataupun sebagai komik seri di tahun 1980an.
Komik Storm yang digambar oleh Don Lawrence ini bernuansa Fiksi - Ilmiah karena bercerita tentang perjalanan tokoh bernama Storm - seorang astronot Bumi di masa depan yang mengalami perjalanan waktu hingga lebih jauh ke masa depan.
"Di tahun 1976 Don Lawrence berhenti mengerjakan The Trigan Empire dan mulai bekerja untuk the Dutch Publishershouse, Oberon. Dia dibayar untuk menciptakan komik yang baru dan menjadi pusat perhatian dari majalah komik mingguan yang baru, Eppo. Sayangnya, percobaan pertama merupakan bencana dan setelah mengulang kembali, akhirnya komik tersebut sukses. STORM pun lahir!
Seri STORM terbagi menjadi dua bagian: Riwayat Dunia Bawah Tanah (The Chronicles of the Deep World) dan Riwayat Pandarve (The Chronicles of Pandarve). Walaupun Riwayat Dunia Bawah Tanah tidak memiliki struktur cerita ataupun arahan kemana cerita tersebut akan berakhir, Riwayat Pandarve, yang ditulis oleh Martin Lodewijk memiliki struktur yang sempurna untuk petualangan STORM dan Si Rambut Merah. Setelah duapuluh lima tahun, Don telah membuat gambar untuk 22 cerita dimana ia telah menunjukan semua bakat, imajinasi dan kemampuannya dalam berkarya. Dia menyelesaikan seri komik tersebut dengan kisah trilogi yang menakjubkan yang telah ia kerjakan bersama dengan Martin Lodewijk selama lebih dari sepuluh tahun. Setelah menyelesaikan karya mutakhirnya, dia mencoba menciptakan spin-off dengan asisten sebelumnya yang bernama Liam Sharp, tetapi hal tersebut tidak pernah terwujud."
Sumber: www.donlawrence.co.uk/comics/en/storm.php
Sinopsis komik pertama Storm:
Komik ini pertama kali dicetak pada bulan April 1984. Di Indonesia komik ini pertama kali ada di majalah hai sebelum dicetak per seri.
Berikut adalah ringkasan cerita komik Storm pertama yang berjudul "Dunia Bawah Tanah":
cerita dimulai dengan keberangkatan Storm mengendarai pesawat antariksa paling mutakhir di dunia untuk mengamati sarang topan yang ada di "Bola Merah" dari stasiun luar angkasa di planet Jupiter.
Ketika Storm bergerak mendekati "Bola Merah" tersebut, para teknisi di stasiun luar angkasa Jupiter memperingatkan Storm agar tidak mengamati terlalu dekat karena "Bola Merah" tersebut adalah pusaran angin bertenaga 1000 mil/jam. Sayangnya, Storm terlambat untuk menjauhi "Bola Merah" tersebut. Pesawat yang membawa Storm tersedot ke dalam pusaran angin "Bola Merah" sehingga para teknisi dan wakil dewan badan antariksa dunia mengira Storm telah tewas karena mereka telah kehilangan kontak.
Sementara itu, pusaran angin 1000 mil/jam membuat tubuh manusia sekuat Storm sekalipun melemah sehingga ia tak sadarkan diri dan terhempas ke lantai pesawat.
Setelah pusaran angin melemah dan berhenti, Storm mulai sadar dan mencoba menghubungi stasiun luar angkasa Jupiter yang sudah tidak ada di lokasinya semula. Jadi Storm memutuskan untuk kembali ke Bumi.
Ketika Storm kembali ke Bumi, Storm melihat bahwa Bumi yang dulu ia kenal telah berubah. Dia tidak menemukan tanda-tanda adanya oksigen, ataupun kehidupan dan lautan pun telah mengering. Dia pun memutuskan untuk turun ke dasar lautan dimana ia ditangkap oleh sekumpulang manusia barbar yang berminat dengan pakaian antariksa yang ia pakai. Setelah berkelahi dengan sengit, Storm pun kalah setelah dikeroyok 3 orang. Ketika ia bangun, ia segera mengenakan pakaian primitif salah satu penyerangnya dan melanjutkan perjalanannya mengarungi dasar lautan atlantik yang telah mengering.
Sementara itu, dua orang barbar lainnya menghadap pimpinan mereka yang bernama Ghast. Ghast senang sekali akan temuan mereka tetapi dia lebih senang lagi apabila anak buahnya itu membawa Storm bersama mereka. Maka ia pun memerintahkan anak buahnya untuk menangkap Storm dengan seekor Iguana raksasa. Setelah Storm tertangkap, ia pun dibawa ke kota pemukiman Ghast dimana Storm tercengang dengan kota megah yang penuh dengan bagunan bertingkat-tingkat di dasar lautan atlantik itu. Dalam perjalanannya ke hadapan Ghast, Storm melihat seorang wanita berambut merah di jendela penjara.
Di hadapan Ghast yang duduk di kursi emasnya, Storm tidak menunjukkan rasa takut. Ghast pun mengira bahwa Storm berasal dari tempat di balik tembok raksasa karena pakaian antariksa yang dikenakannya. Storm pun mengelak dan berkata bahwa dia tidak mengetahui apa pun tentang tempat di balik tembok raksasa yang mengelilingi wilayah kekuasaan Ghast. Tetapi Ghast tidak percaya jadi Ghast mengirim Storm ke penjara bersama dengan wanita berambut merah yang telah ia lihat sebelumnya.
Di ruang penjara, wanita berambut merah yang bernama Carrot pada awalnya tidak mempercayai Storm tetapi ia tetap mengajak Storm untuk kabur dari penjara tersebut dengan dibantu kawannya dari luar yang bernama Kiley - seorang pria berbadan besar dan kuat serta bersenjatakan pedang. Dalam pelarian, mereka dibantu oleh beberapa teman lainnya ketika sampai di daerah perbatasan. Di sana Storm diajak untuk masuk ke dalam air di jalan rahasia dan menyelam. Setelah menyelam dan berenang, mereka melanjutkan perjalanan dengan menaiki kereta luncur yang dikendalikan oleh listrik (energi yang tidak dikuasai oleh Ghast dan rakyatnya). Sementara itu, Ghast tetap mengejar mereka sampai ke jalan rahasia di dalam air dan melanjutkan pengejarannnya dengan menaiki dengan kereta luncur manual. Selain Ghast, Storm dan kawan-kawan juga terancam bahaya ketika ledakan yang dibuat oleh Ghast untuk mengikuti Storm membangunkan kelelawar laba-laba buas. Carrots berusaha menghindar dari serangan binatang tersebut dan akibatnya kereta luncur pun meleset dari rel kereta dan menabrak dinding terowongan. Untungnya mereka selamat. Untuk menghambat Ghast, Kiley mengorbankan dirinya untuk bertarung melawan Ghast sementara Storm dan Carrots pergi melarikan diri ke arah ruang harta. Pada awalnya Kiley berada di atas awan tetapi pada akhirnya Ghast pun membunuh Kiley dengan pedangnya sendiri.
Sementara itu, Storm dan Carrots pun berjalan menuju ruang harta dimana mereka menemukan sebuah gerbang batu. Gerbang batu tersebut merupakan pintu masuk ke sebuah gua dimana terdapat berbagai macam mesin yang tidak dikenali baik oleh Storm ataupun Carrots. Selain itu, di ujung ruangan terdapat pintu besi yang mirip dengan lift. Storm melihat bahwa ada roda aneh yang berhubungan dengan lift tersebut. Setelah mengutik roda aneh itu beberapa saat, muncullah sesosok wajah orang tua berambut putih panjang dan juga berjenggot putih. Sosok tersebut menyambut mereka ke tanah leluhurnya yaitu tanah kuno Mandroid dan membuka pintu lift yang berada di ujung ruangan.
Walaupun takut, Carrots tetap mengikuti Storm untuk memasuki lift tersebut. Namun ketika mereka hendak masuk, Ghast muncul di ruang harta dengan membawa pedang Kiley. Ghast berniat membunuh Storm dengan pedang yang ia bawa tetapi tiba-tiba ada sinar aneh yang menyinari pedang Ghast dan lenyap bersamaan dengan sinar tadi. Saat itulah Storm dan Carrots menggunakan kesempatan itu untuk lari dan masuk ke dalam lift yang membawa mereka meluncur turun ke dalam perut bumi dengan cepat. Ketika lift melambat maka pintunya pun terbuka dan di hadapan mereka terlihat pemandangan alam yang menakjubkan - sebuah samudra luas yang ada di ribuan kaki dalam perut bumi.
Selain itu, Storm memperhatikan adanya sebuah bangunan besar pusat energi. Storm dan Carrots memasuki gerdung tersebut dan disambut oleh sosok wajah yang mereka lihat di roda aneh di ruangan harta. Pada saat yang sama Ghast rupanya telah sampai di tempat yang sama dan ia pun langsung mencoba menyerang Storm tetapi digagalkan oleh sosok laki-laki tua tadi yang mengeluarkan sinar menyakitkan dari jari telunjuknya sehingga Ghast terpental ke dinding batu dan mulai diserang tikus-tikus buas.
Laki-laki tua itu pun mengajak Storm dan Carrots kembali ke ruang mesin dan menjelaskan bahwa bangunan ini mengatur air laut yang terletak di gua bawah tanah dimana samudra disimpan. Laki-laki tua itu bercerita bahwa pada saat tembok besar dibangun mengitari planet bumi, lautan ditampung pada salah satu sisinya untuk digunakan sebagai pembangkit energi. Pada jaman itu, manusia menggali semakin dalam ke dasar samudra untuk menambang minyak dan mineral sehingga sumber alam Bumi kering. Pada suatu hari, tembok besar mengalami keretakan yang amat parah sehingga akhirnya jebol dan menyebabkan air samudra mengalir deras ke balik tembok dan menyerap ke dalam tanah. Bumi pun dilanda gempa dan angin topan. Seluruh kulit bumi bergerak hebat sehingga samudra teraduk-aduk dan pulau besar dan kecil pun tenggelam dibalik amuk gelombang samudra. Tiba-tiba air samudra melesak ke dalam bumi dan akhirnya seluruh air samudra tidak ada yang tersisa di permukaan. Lalu muncullah tumbuhan laut yang belum pernah kelihatan oleh manusia selama ini selain itu makhluk-makhluk aneh pun mulai bermunculan.
Laki-laki tua itu pun menunjukkan kepada Storm dan Carrots mesin yang mengendalikan air samudra yang ada di dalam gua - sebuah mesin dahsyat yang dapat membuat lautan terisi kembali. Sayangnya tidak ada satupun dari mereka yang menyadari bahwa Ghast sedang memperhatikan mereka dari langit-langit gua. Ghast pun melompat turun dari persembunyiannya dan menekan tombol yang mengendalikan air samudra. Storm dan Carrots tidak ada yang sempat mencegahnya dan akibatnya sungguh tak terkirakan. Air samudra mulai bergerak hidup dan mengisi ruangan gua. Storm dan Carrots kembali masuk ke dalam lift untuk pergi ke permukaan. Tetapi sebelumnya sang laki-laki tua menghukum Ghast untuk tinggal di dalam gua. Di luar, Kota Ghast pun diserbu air bah sehingga penduduknya panik dan mencari tempat yang tinggi tetapi mereka tetap tidak selamat karena permukaan air samudra naik sangat cepat sehingga tidak ada tempat yang aman. Di kejauhan terlihat sesosok tubuh pria menyerupai Ghast yang terombang-ambing oleh air samudra.
Sementara itu, Storm dan Carrots sampai ke atas tembok besar. Laki-laki tua itu memberitahu bahwa sebentar lagi air samudra akan terus naik melebih tembok besar dan mereka harus siap-siap untuk berenang. Storm dan Carrots siap dengan keadaan tersebut tetapi mereka mengkhawatirkan tentang keadaan si laki-laki tua. Tetapi ternyata laki-laki tua tersebut hanyalah sebuah hologram yang langsung musnah lenyap seperti uap setelah memberikan sebuah rakit untuk Storm dan Carrots. Storm dan Carrots cepat meloncat ke atas rakit tepat pada saat air mencapai puncak tembok besar. Dan banjir besar itu pun membawa mereka ke petualangan berikutnya... (The End)
Komik Storm yang digambar oleh Don Lawrence ini bernuansa Fiksi - Ilmiah karena bercerita tentang perjalanan tokoh bernama Storm - seorang astronot Bumi di masa depan yang mengalami perjalanan waktu hingga lebih jauh ke masa depan.
"Di tahun 1976 Don Lawrence berhenti mengerjakan The Trigan Empire dan mulai bekerja untuk the Dutch Publishershouse, Oberon. Dia dibayar untuk menciptakan komik yang baru dan menjadi pusat perhatian dari majalah komik mingguan yang baru, Eppo. Sayangnya, percobaan pertama merupakan bencana dan setelah mengulang kembali, akhirnya komik tersebut sukses. STORM pun lahir!
Seri STORM terbagi menjadi dua bagian: Riwayat Dunia Bawah Tanah (The Chronicles of the Deep World) dan Riwayat Pandarve (The Chronicles of Pandarve). Walaupun Riwayat Dunia Bawah Tanah tidak memiliki struktur cerita ataupun arahan kemana cerita tersebut akan berakhir, Riwayat Pandarve, yang ditulis oleh Martin Lodewijk memiliki struktur yang sempurna untuk petualangan STORM dan Si Rambut Merah. Setelah duapuluh lima tahun, Don telah membuat gambar untuk 22 cerita dimana ia telah menunjukan semua bakat, imajinasi dan kemampuannya dalam berkarya. Dia menyelesaikan seri komik tersebut dengan kisah trilogi yang menakjubkan yang telah ia kerjakan bersama dengan Martin Lodewijk selama lebih dari sepuluh tahun. Setelah menyelesaikan karya mutakhirnya, dia mencoba menciptakan spin-off dengan asisten sebelumnya yang bernama Liam Sharp, tetapi hal tersebut tidak pernah terwujud."
Sumber: www.donlawrence.co.uk/comics/en/storm.php
Berikut adalah ringkasan cerita komik Storm pertama yang berjudul "Dunia Bawah Tanah":
Ketika Storm bergerak mendekati "Bola Merah" tersebut, para teknisi di stasiun luar angkasa Jupiter memperingatkan Storm agar tidak mengamati terlalu dekat karena "Bola Merah" tersebut adalah pusaran angin bertenaga 1000 mil/jam. Sayangnya, Storm terlambat untuk menjauhi "Bola Merah" tersebut. Pesawat yang membawa Storm tersedot ke dalam pusaran angin "Bola Merah" sehingga para teknisi dan wakil dewan badan antariksa dunia mengira Storm telah tewas karena mereka telah kehilangan kontak.
Sementara itu, pusaran angin 1000 mil/jam membuat tubuh manusia sekuat Storm sekalipun melemah sehingga ia tak sadarkan diri dan terhempas ke lantai pesawat.
Setelah pusaran angin melemah dan berhenti, Storm mulai sadar dan mencoba menghubungi stasiun luar angkasa Jupiter yang sudah tidak ada di lokasinya semula. Jadi Storm memutuskan untuk kembali ke Bumi.
Ketika Storm kembali ke Bumi, Storm melihat bahwa Bumi yang dulu ia kenal telah berubah. Dia tidak menemukan tanda-tanda adanya oksigen, ataupun kehidupan dan lautan pun telah mengering. Dia pun memutuskan untuk turun ke dasar lautan dimana ia ditangkap oleh sekumpulang manusia barbar yang berminat dengan pakaian antariksa yang ia pakai. Setelah berkelahi dengan sengit, Storm pun kalah setelah dikeroyok 3 orang. Ketika ia bangun, ia segera mengenakan pakaian primitif salah satu penyerangnya dan melanjutkan perjalanannya mengarungi dasar lautan atlantik yang telah mengering.
Sementara itu, dua orang barbar lainnya menghadap pimpinan mereka yang bernama Ghast. Ghast senang sekali akan temuan mereka tetapi dia lebih senang lagi apabila anak buahnya itu membawa Storm bersama mereka. Maka ia pun memerintahkan anak buahnya untuk menangkap Storm dengan seekor Iguana raksasa. Setelah Storm tertangkap, ia pun dibawa ke kota pemukiman Ghast dimana Storm tercengang dengan kota megah yang penuh dengan bagunan bertingkat-tingkat di dasar lautan atlantik itu. Dalam perjalanannya ke hadapan Ghast, Storm melihat seorang wanita berambut merah di jendela penjara.
Di hadapan Ghast yang duduk di kursi emasnya, Storm tidak menunjukkan rasa takut. Ghast pun mengira bahwa Storm berasal dari tempat di balik tembok raksasa karena pakaian antariksa yang dikenakannya. Storm pun mengelak dan berkata bahwa dia tidak mengetahui apa pun tentang tempat di balik tembok raksasa yang mengelilingi wilayah kekuasaan Ghast. Tetapi Ghast tidak percaya jadi Ghast mengirim Storm ke penjara bersama dengan wanita berambut merah yang telah ia lihat sebelumnya.
Di ruang penjara, wanita berambut merah yang bernama Carrot pada awalnya tidak mempercayai Storm tetapi ia tetap mengajak Storm untuk kabur dari penjara tersebut dengan dibantu kawannya dari luar yang bernama Kiley - seorang pria berbadan besar dan kuat serta bersenjatakan pedang. Dalam pelarian, mereka dibantu oleh beberapa teman lainnya ketika sampai di daerah perbatasan. Di sana Storm diajak untuk masuk ke dalam air di jalan rahasia dan menyelam. Setelah menyelam dan berenang, mereka melanjutkan perjalanan dengan menaiki kereta luncur yang dikendalikan oleh listrik (energi yang tidak dikuasai oleh Ghast dan rakyatnya). Sementara itu, Ghast tetap mengejar mereka sampai ke jalan rahasia di dalam air dan melanjutkan pengejarannnya dengan menaiki dengan kereta luncur manual. Selain Ghast, Storm dan kawan-kawan juga terancam bahaya ketika ledakan yang dibuat oleh Ghast untuk mengikuti Storm membangunkan kelelawar laba-laba buas. Carrots berusaha menghindar dari serangan binatang tersebut dan akibatnya kereta luncur pun meleset dari rel kereta dan menabrak dinding terowongan. Untungnya mereka selamat. Untuk menghambat Ghast, Kiley mengorbankan dirinya untuk bertarung melawan Ghast sementara Storm dan Carrots pergi melarikan diri ke arah ruang harta. Pada awalnya Kiley berada di atas awan tetapi pada akhirnya Ghast pun membunuh Kiley dengan pedangnya sendiri.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar